Anak Bertengkar Dengan Teman? Jangan Turut Campur!

30 September 2016 -

Lagi, fenomena anak-anak bermain di sekitar komplek saya. Sederhana, ada beberapa anak kecil yang sering bermain dengan riangnya. Saat itu, ada sedikit keributan antara dua orang anak. Sebut saja A dan B, memperebutkan sebatang kayu yang bisa dipakai untuk menggali tanah. Sederhana khan? Terlepas dari itu, saya ingin mencoba menulis soal Parenting.

Saat anak sedang bertengkar dengan teman-temannya, orang tua seringkali ikut campur. Cara tersebut bukan cara terbaik untuk mengajarkan anak menyelesaikan masalah.
Tindakan orang tua yang seperti itu justru tidak melatih anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Anak-anak, khususnya saat berusia 4-6 tahun, sebaiknya sudah bisa beradaptasi dengan masalah sosial dengan teman-temannya, sehingga ia belajar untuk berdamai dan memaafkan.

Saat anak sudah di rumah, mintalah anak untuk menceritakan apa yang sedang terjadi. Secara perlahan, ajari anak untuk meminta maaf dan bersalaman. Beri petunjuk untuk menyelesaikan masalah atau pertengkaran. Cara seperti ini psti lebih baik, dibandingkan jika orang tua yang berbicara langsung dengan teman si anak.

Memberikan banyak kesempatan pada anak untuk bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman seusianya. Sosialisasi ini tentu termasuk juga menyelesaikan masalah yang pasti ada. Selain itu, saya rasa perlu mengajari anak cara untuk berkenalan, mengantre, berbagi dan bertukar.

Tidak sedikit, saya menemukan orang tua justru tanpa disadari mengajarkan anak sedari kecil untuk curang. Misalnya, dengan menyuruh anak menyerobot antrean.
"Anaknya disuruh menyerobot antrean kan seringnya, bilang 'sudah sana kamu maju, nanti kehabisan!'. Logikanya, si anak akan menangkap bahwa 'menyerobot' itu sah-sah saja selama dia bisa. Efek ke depannya?

Walau tulisannya mungkin kurang terstruktur, semoga bisa menginspirasi dan memperkaya pengetahuan.

0 Komentar:

Beri Komentar

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.