Ketika Sekolah Menjadi Sebuah Tempat Pembodohan

11 April 2015 -

Sekolah merupakan tempat menempa ilmu, belajar, dan mempertajam pengembangan diri. Namun, tidak banyak pihak yang menyadari hal ini, atau sebenarnya menyadari tetapi menutup mata. Walaupun sebenarnya esensi dari sekolah itu sendiri adalah belajar, dan jika dilemparkan lagi sebuah pertanyaan, benar nggak sih belajar?

Fenomena pelajar dan kegiatannya sudah bukan pemandangan langka. Mulai dari fenomena baik, seperti prestasi, ekstrakurikuler, olimpiade, dan lain-lain. Tapi, sudahkah ditengok? Hedon, arogansi, pergaulan lainnya juga bisa dikatakan berawal dari sekolah. Bukan pihak sekolah yang mengajarkan hal tersebut, tetapi pergaulan dan komunikasi yang dibentuk siswalah yang memperlebarnya. Sebut saja siswa sekolah A kenal dengan siswa dengan sekolah B karena teman sekelasnya. Begitu pula seterusnya, rantai kian memanjang dan tentunya tidak dapat ditelusuri lagi. Apabila pola komunikasi dan pergaulan baik, tentu siswa yang bersangkutan menjadi pribadi yang baik, dan sebaliknya.

Sekolah dan ilmu menjadi hal yang nyaris identik, lantas apa maksud "Sekolah Menjadi Sebuah Tempat Pembodohan"? Saya sendiri yang menuliskan judul tersebut, tentu punya alasan tersendiri berdasarkan opini saya sendiri pula.

Sekarang untuk membahasnya, saya coba lemparkan beberapa pertanyaan kepada diri saya sendiri, dengan subjek pertanyaan adalah siswa tingkat SMA (sederajat  tentunya). Beberapa pertanyaan kecil berikut, tidak banyak anak tingkat SMA kelas 3 yang bisa menjawabnya.
  1. Ketapang adalah tumbuhan berbiji terbuka, benar atau salah?
  2. 6+2-8*2+6:3 = ...
  3. Penemu benua Amerika adalah Leonardo da Vinci, benar atau salah?
  4. Bagaimana bunyi 5 sila dari Pancasila?
  5. Dalam Fisika, dapat menghitung kecepatan orang bersepeda jika diketahui apanya?
Pertanyaan sederhana tersebut saya jamin, masih banyak yang tidak bisa dijawab oleh siswa tingkat SMA kelas 3. Lantas, apabila sudah kelas 3 masih terbata-bata menjawab pertanyaan seperti itu? Selama 3 tahun mereka ngapain?

Ini akan menjadi PR yang serius untuk sekolah maupun siswa didiknya, sekolah pasti tidak mau disalahkan apabila hal seperti ini terjadi. Sekolah melalui guru-gurunya diharuskan mendidik siswanya, tetapi tidak dipungkiri ada target materi per tahun ajarannya. Atau mungkin gurunya tidak mengajarkannya dengan sungguh-sungguh? Apakah itu lantas bisa menjadi jawaban permasalahan?

Saya sendiri tidak mengetahuinya. Lantas, siswa atau pihak siswa bagaimana? Siswa kurang serius belajar atau hal lain? Lagi-lagi ini hanya ditimpal pertanyaan lebih lanjut.

Akhirnya "Sekolah Menjadi Sebuah Tempat Pembodohan" hanyalah sebuah gumpalan benang kusut, yang tidak dapat ditemukan ujungnya.

0 Komentar:

Beri Komentar

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.