Keluhan Nyeri Diabaikan, Neuroblastoma Merenggut Nyawanya

19 Februari 2015 -

Jake Croft berulang kali mengeluhkan rasa nyeri di kedua kakinya. Namun sang ibu, Claire (29), sempat 'mengabaikan' keluhan tersebut. Saat akhirnya Jake dibawa ke dokter, barulah ketahuan bahwa dirinya mengidap neuroblastoma.

Bocah berusia 4,5 tahun ini sangat senang bermain sepak bola bersama dua saudaranya, Jack (12) dan Alex (7). Jake baru saja didaftarkan untuk mulai masuk sekolah ketika kemudian ia mulai mengeluh kakinya pegal-pegal dan nyeri.

"Saat itu saya sempat berpikir nyeri tersebut hanya karena masa pertumbuhannya. Beberapa hari ia tidak mengeluh, tapi kadang ia mengeluh nyerinya sangat luar biasa. Saya bahkan sempat merasa apa keluhan tersebut mungkin karena dia belum mau mulai sekolah," ungkap Claire, seperti dikutip dari berbagai sumber pada Kamis (19/2/2015).

Sekitar sebulan kemudian, Jake mulai mengalami penurunan nafsu makan. Di kulitnya juga mulai muncul lebam-lebam seukuran koin. Mengira anaknya dipukuli di sekolah, Claire sempat menemui sang guru namun dikatakan bahwa Jake baik-baik saja di sekolah dan tidak pernah memiliki masalah dengan teman-temannya.

Mulai bingung, Claire dan suaminya, Stuart (38) kemudian baru memutuskan untuk membawa Jake ke dokter. Di sana, ia kemudian langsung melakukan cek darah dan urine. Keesokan harinya, dokter mengatakan bahwa sel darah putih Jake sangat tinggi dan kemungkinan ia mengalami leukemia. Jake pun lantas dirujuk ke Sheffield Children's Hospital untuk diperiksa.

Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, Claire dan Stuart diberi tahu bahwa Jake mengidap kanker langka pada anak yakni neuroblastoma. Sudah berada pada stadium 4, peluang Jake untuk sembuh hanya sekitar 30 persen. Dijelaskan juga bahwa kanker Jake kali pertama tumbuh di bagian ginjal kanannya.

Jake kemudian mulai dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif dan terus dipantau setiap hari. Sayangnya kondisi Jake dengan cepat terus memburuk sampai akhirnya organ-organ tubuh mungilnya mulai rusak dan berhenti berfungsi. Kemoterapi dan obat-obat lainnya sempat diberikan meskipun dalam stadium tersebut peluangnya sangat kecil.

Hidup Jake saat itu hanya mengandalkan berbagai mesin-mesin di rumah sakit. Claire dan Stuart yang tak tega pun dengan berat hati kemudian memutuskan untuk merelakan sang buah hati. Sekitar 14 hari setelah Jake kali pertama dibawa ke dokter, ia meninggal dunia. "Saya benar-benar tak percaya, semua terjadi begitu cepat. Sepertinya masih kemarin saya melihatnya bermain dengan saudara-saudaranya," kenang Claire.

Ia berharap kisahnya ini bisa membuat para orang tua untuk lebih berhati-hati dalam membuat keputusan secepatnya membawa anak ke dokter jika memang ada keluhan tak biasa. Dengan begitu, diagnosis penyakit pun jika ada bisa lebih cepat ditemukan dan bisa diobati secepat mungkin.

0 Komentar:

Beri Komentar

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.