PLN, Nyalakan Indonesia

16 Oktober 2014 -

"Yaah... Mati lampu!", mungkin ungkapan seperti itu yang sering kita dengar ketika terjadi pemadaman listrik. Bahkan, tidak sedikit yang meluapkan  dengan mengeluarkan beberapa kata yang memanggil satwa dari suakanya. Ketika hal semacam itu terjadi, kita baru menyadari betapa pentingnya energi listrik itu. Seberapa penting? Sebut saja rentetan keluhan yang populer, seperti gelap, panas, mati gaya, dll menjadi alasan ketidaksukaan terhadap mati lampu.

Sejenak mari kita kenali apa itu listrik terlebih dahulu. Listrik merupakan salah satu bentuk energi, energi adalah properti fisika dari suatu objek, dapat berpindah melalui interaksi fundamental, yang dapat diubah bentuknya namun tak dapat diciptakan maupun dimusnahkan (sumber: Wikipedia). Pengadaan energi listrik dapat memanfaatkan berbagai sumber, seperti air, minyak, batubara, sinar matahari, nuklir, dan lain-lain. Tentu masing-masing sumber energi memiliki proses pengolahan yang berbeda, dan memberikan kapasitas energi yang berbeda pula.

PLN merupakan perusahaan milik pemerintah yang mengurusi tentang kelistrikan di Indonesia. Zaman sekarang, listrik bukan hanya diperlukan untuk 'menerangi' saja. Seiring dengan perkembangan zaman, perilaku dan gaya hidup masyarakat pun mulai tidak bisa dipisahkan dengan energi yang satu ini. Penyebaran pemukiman yang terus melebar pun juga memaksa PLN menarik 'kabel' lebih panjang, dan 'menerangi' daerah tersebut. Tentu hal ini menjadi PR yang tidak mudah bagi PLN.

Untuk menjaga kelangsungan aliran energi listrik, dan/atau membaginya ke masyarakat di daerah lain, tidak akan berhasil apabila hanya mengandalkan kerja PLN untuk melakukan tugas tersebut. Tentu PLN pun juga memerlukan partisipasi kita semua untuk membantu PR PLN tersebut.Salah satu hal yang memerlukan partisipasi kita adalah "Hemat Listrik". Hal tersebut telah menjadi lagu lama yang selalu dinyanyikan oleh PLN, namun tidak sedikit masyarakat yang kurang atau bahkan tidak respek sama sekali dengan pentingnya hemat listrik itu.

Etika dalam menggunakan energi listrik, seperti yang dikenendaki oleh PLN dalam "Hemat Listrik"nya, menjadi hal yang sangat perlu karena dengan mengurangi penggunaan peralatan listrik secara tidak langsung memberikan kapasitas untuk masyarakat lain di daerah yang lain pula. Pemikiran yang salah, akibat tidak menyadari hal tersebut, misalnya seperti "Aku memakai peralatan listrik di rumahku, yang penting aku kuat saja membayar tagihan listriknya." jika ditilik dari perilaku jual beli, memang sudah menjadi hak pelanggan untuk memanfaatkan listrik. Tetapi ketika mati lampu? Hal yang paling cepat dan mudah dilakukan adalah menyumpah dan menyampah, ujung-ujungnya menuding PLN sebagai tersangkanya. Padahal, apabila ditelusuri, 2 permasalahan ini bagaikan benang kusut yang kedua ujungnya telah tersambung. Jadi, jika menuding pihak yang satu sebenarnya di ujung permasalahannya adalah pihak yang lainnya, begitu sebaliknya.

Kembali kepada PR PLN untuk menerangi dunia. Menerangi dalam hal ini adalah memberikan dan/atau menyuplai kebutuhan listrik untuk pencahayaan maupun aktifitas lain yang memerlukan energi listrik. Disini saya mengambil 2 contoh kehidupan, pada masa lalu dan masa sekarang. Kehidupan pada masa lalu, apabila boleh saya analogkan seperti kehidupan di daerah terpencil, sedangkan kehidupan pada masa sekarang, saya analogkan seperti kehidupan di perkotaan. Pada daerah terpencil, masuknya aliran listrik sangat diperlukan untuk penerangan lampu, dan mereka biasanya sangat menekan penggunaan listrik untuk keperluan lainnya, seperti penggunaan kulkas, rice cooker, AC, dan lain-lain. Lain halnya dengan kehidupan di perkotaan, nyaris di tiap rumah tangga menggunakan peralatan-peralatan tersebut, bahkan menggunakannya dalam waktu yang lama setiap harinya. Tablet atau ponsel pintar (smartphone) juga nyaris menjadi kebutuhan primer, dan kita tahu perangkat tersebut memerlukan energi listrik. Walaupun kecil, tetapi apabila mati lampu, tidak sedikit orang yang gusar karena tidak dapat melakukan aktifitasnya dengan tablet atau smartphone karena kehabisan baterai. Berbagai alasan pula, seperti tidak bisa tersambung jejaring sosial, blog, permainan, atau hal lainnya menjadikan listrik benar-benar perlu untuk kehidupan zaman sekarang.

Hari Listrik Nasional (HLN) jatuh pada 27 Oktober, dan tahun 2014 ini sekaligus mengulang HLN yang ke-69. Ya, seumur dengan Hari Proklamasi RI dan memang PR-PR PLN masih belum terselesaikan. Sepertinya tanpa dukungan kita, hal tersebut akan nihil hasilnya.

Apa yang harus kita lakukan? Pertanyaan ini wajib diajukan kepada seluruh elemen yang memanfaatkan listrik untuk kehidupannya. Menurut saya, yang harus kita lakukan tidak banyak, kita hanya dituntut hemat listrik dan mengawasi penggunaan listrik dari lingkungan kita sendiri. Efek dari tindakan ini cukup besar. Anggap kita melaksanakan yang sebagaimana PLN anjurkan, mematikan peralatan yang tidak perlu. Misalnya kita mematikan 1 buah lampu, sama halnya kita menyisakan energi untuk menghidupkan lampu bagi daerah lain yang kekurangan listrik. Jika 1 kota mematikan 1 buah lampu yang tidak perlu, bisa jadi di luar sana 2-5 desa bisa terterangi dengan energi listrik yang dihemat dari penggunaan lampu tersebut. Luar biasa khan?

Apa yang harus PLN lakukan? Nah, sebagaimana pertanyaan sebelumnya, saya rasa pertanyaan ini juga sangat perlu dilontarkan. Menurut saya, hal yang yang perlu diperhatikan PLN adalah pembayaran, pasokan, informasi, dan kesadaran masyarakat terhadap listrik. Walaupun itu bukan 100% tanggung jawab PLN, tetapi kalau bukan PLN, siapa lagi yang menggerakkan hal tersebut? Jika boleh saya jabarkan satu per satu, hal yang harus dilakukan oleh PLN adalah sebagai berikut:
  • Pembayaran menjadi tanduk yang vital untuk kelangsungan hidup PLN, karena dari pembayaranlah pengadaan dan pemeliharaan infrastruktur PLN dilakukan. Listrik Pintar atau Listrik Prabayar, merupakan terobosan yang menarik. Urusan pembayaran (pembelian pulsa listrik) lebih fleksibel karena dengan skema ini pelanggan secara tidak langsung terbebas dari denda keterlambatan, karena energi listrik tersedia apabila ada sisa pulsa listriknya. Tidak sedikit pengguna listrik pascabayar yang sibuk mengurus pembayarannya, hingga jatuh tempo sehingga harus terkena denda. Lagi-lagi, tidak sedikit pelanggan akan ngomel karena hal tersebut. Untuk mempermudah hal ini, belajar dari pembelian aplikasi Android yang dapat dilakukan dari Play Store, saya pikir bekerja sama PLN dengan penyedia layanan telepon seluler, dan membayar tagihan listrik dengan sistem 'potong pulsa' bisa menjadi alternatif pembayaran.
  • Pasokan juga menjadi salah satu hal yang harus dipikirkan oleh PLN. Kenapa? Walaupun kita berhemat listrik, tidak dipungkiri perkembangan masyarakat juga meluas. Pemukiman dan kawasan penduduk juga meluas, sehingga berhemat saja tidak cukup untuk menyediakan pasokan listrik ke daerah lainnya. Lantas bagaimana? Mencari dan/atau memanfaatkan sumber energi baru di lingkungan baru, mungkin bisa menjadi solusi. PLN mungkin telah menerapkan hal ini, seperti pembangunan PLTA, PLTU, dll tetapi menurut saya hal ini tetap diperlukan.
  • Informasi? Informasi saya pikir wajib digalakkan, karena dari informasi masyarakat dan seluruh elemen pengguna listrik dapat mengenal hal-hal yang berkaitan dengan PLN dan kelistrikan. Pelaksanaan Lomba Blog IdeKU Untuk PLN yang mengusung hastag #IdeKUuntukPLN ini menurut saya juga merupakan sarana yang secara tidak langsung memperluas informasi tentang PLN dan kelistrikan.
  • Kesadaran masyarakat menjadi tugas yang harus diselesaikan juga oleh PLN. Kesadaran memang menjadi tanggung jawab semua pihak. Menurut saya, PLN perlu mendorong atau memfasilitasi hal-hal yang mampu membawa masyarakat untuk sadar terhadap listrik. Hal tersebut dapat dilakukan misalnya dengan memberi penghargaan atau hadiah, mengenalkan dengan mensponsori event-event, atau kegiatan lain yang mampu mendekatkan PLN dengan masyarakat. Jika masyarkat sadar akan listrik, tidak pencurian listrik dapat ditekan dan program Hemat Listrik saya rasa akan sukses.

Tak terasa, sudah cukup panjang menulis. Dengan harapan "Majulah PLN, Majulah Indonesia..", saya mengucapkan "PLN, Nyalakan Indonesia! Selamat Hari Listrik Nasional ke-69".

0 Komentar:

Beri Komentar

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.