Workshop atau Pelatihan Kelas Prakarya, Mengecewakan!

21 Juli 2014 -

Sengaja aku menulis artikel ini, bukan untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu, tetapi sekedar menulis tentang apa yang aku alami.Tulisan ini saya tulis tanggal 7 Oktober 2014, tetapi mengingat ke peristiwa bulan Juli 2014.
Tanggal 16 - 21 Juli 2014 sepertinya harus dicatat. Bagaimana tidak, selama 5 hari itu terjadi peristiwa yang bisa dibilang tidak mengenakkan. Saya sendiri baru menyadarinya pada tanggal 21, atau hari ke-5. Sebut saja Workshop atau Pelatihan Kelas Prakarya, saya sendiri tidak hafal tulisan yang ada di spanduk ruangan kami ketika acara pembukaan. Ya, 5 hari pelatihan dengan jadwal yang cukup melelahkan.

Kronologinya, tanggal 16 Juli, bertepatan dengan hari rabu. Waktu itu memang kantor sedang libur menyesuaikan bulan Ramadhan. Pagi-pagi sekali saya dihubungi atasan saya, kata beliau hari ini jam 08:00 saya ada tugas mengikuti pelatihan di salah satu SMK di Banjarmasin. Well, kelabakan pastinya, karena hari ini pelatihan, dan hari ini juga baru terima kabar. OK, sampai disini saya masih enjoy dan bisa menyesuaikan kerjaan mendadak tersebut.

Sesampai di tempat yang dimaksud, ternyata agenda hari pertama adalah pengenalan profil dan pembukaan pelatihan. Saya sebutkan saja, waktu itu pelatihan diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan (Kota atau Provinsi, saya lupa) bekerja sama dengan SEAMEO SEAMOLEC. Dari penjabaran profilnya, iya sih... Sertifikat Berstandart Internasional.

Merasa ditangani oleh Institusi yang kredibel, berstandart Internasional,  saya mengikuti kegiatannya dengan tertib. Saya tidak mencium indikasi yang kurang mengenakkan, apalagi itu bulan puasa saya istiqamah dan berusaha mendekatkan dengan Allah (mumpun pas momentnya). Tetapi karena kegiatan itu menurut saya positif, dan juga atasan menugaskan, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengikutinya. Workshopnya bisa dibilang materinya sangat mudah buat saya, karena keseharian sudah bergelut pada hal-hal tersebut. Ya, penggunaan kelas maya dengan Edmodo, pembuatan buku digital, dan penggunaan blender yang tidak sempat dijelaskan pemateri. Salah satu hasilnya, peserta dibentuk kelas di Edmodo dimana tiap peserta bisa berinteraksi.

Jujur saya sesekali bermain-main bersama rekan sebangku, ketika yang lain sibuk mengerjakan sesuai tutorial pematerinya, bukannya apa-apa tetapi karena saya sudah selesai mengerjakannya. Itu berlangsung sampai hari ke empat.

Saya ingat betul, hari ke empat adalah hari sabtu. Hari itu yang mengherankan, ada dibentuk ketua, bendahara, dll. Saya tidak mengerti dan kupikir untuk membentuk silaturahmi lebih lanjut. Oke, tidak masalah... Hari itupun disebutkan, sertifikat diberikan kepada yang memerlukan. Katanya lagi, tidak semua peserta memerlukan sertifikat, ada yang dibuatkan tetapi tidak diambil. Jadi, yang perlu sertifikat nanti menghubungi ketua. Oke, nanti menghubungi ke ketua dalam hati saya... Kemudian, waktu menginjak sore.. Akhirnya hari ini hendak diakhiri 'belajar'nya, kata pematerinya, besok (minggu) hadir kembali untuk acara penutupan. Oke, siapa tahu dapat sertifikat. Hari minggu, bulan puasa, kupikir benar-benar harus meluangkan waktu.

Khidmat saya dan beberapa puluh peserta mengikuti acara penutupan (hari ke lima) selang beberapa puluh menit, kata salah satu panitia (mungkin), saya lupa kalimatnya yang intinya selain pimpinan sekolah atau perwakilannya, dipersilahkan keluar. Saya sendiri bingung, kok gitu aja keluar ruangan? Gak ada tindak lanjut dari kegiatan ini. Saya pun meninggalkan SMK tersebut dengan tanda tanya, teman-teman yang lain juga bertanya-tanya. Tetapi karena sebagian pulang, ya saya ikut pulang.

Selang beberapa puluh jam, atau besoknya (saya lupa), ada postingan di kelas Edmodo, yang menanyakan nomor kontak. Kemudian esoknya, dapat khabar bahwa untuk sertifikat dikenakan biaya Rp. 60.000,- Sontak saya berfikir "Akal-akalan macam apa ini?", Pelatihan saya yang capek dan meluangkan waktu, harus bayar untuk sertifikat.

Sebenarnya bukan soal bayar atau tidaknya, kenapa soal ini tidak dijelaskan di awal pertemuan? Jadi saya bisa memutuskan ikut pelatihan hari selanjutnya atau tidak. Di sisi lain saya merasa tertipu, apa alasannya? Selama 5 hari, karena bulan puasa, bisa dibilang saya sebagai peserta tidak mendapatkan fasilitas apapun! Jelas, buntungnya di peserta. Gak bayar, gak dapat sertifikat dan sudah lelah selama 5 hari. Mau bayar, dapat sertifikat yang notabene materinya sudah gitu-gitu aja.

Sampai hari ini saya memang belum mendapatkan sertifikat dari SEAMOLEC, walau saya sempat menghubungi ketua bahwa saya menginginkan sertifikatnya, dan memang sampai hari ini saya belum melakukan pembayaran Rp.60.000,- itu, tetapi saya pikir hak saya untuk mendapatkan sertifikat itu tetap ada dan tak pernah kehilangan hak, walaupun saya mengurusnya tahun depan (mungkin).

Melihat dari pengalaman saya, bagi pembaca agar lebih cerdik apabila mendapatkan undangan atau kabar tentang workshop atau pelatihan seperti di atas.Ambil hikmahnya, saya merasa waktu saya tidak dihargai, semoga tak ada yang 'terjebak' lagi.

0 Komentar:

Beri Komentar

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.