Sebatang Rokok Mengandung 4000 Zat Kimia Bersifat Racun

08 November 2013 -

Berdasar data WHO, Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok tertinggi nomor tiga di dunia. Nah, rupanya jumlah perokok pemula dengan usia 10-14 tahun pun selalu mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Sungguh disayangkan beberapa remaja sudah aktif ngebul, sebab di dalam rokok mengandung 4.000 senyawa kimia beracun.

Di dalam sebatang rokok terkandung 4.000 jenis senyawa kimia beracun yang berbahaya untuk tubuh di mana 43 di antaranya bersifat karsinogenik. Dengan komponen utama nikotin (zat berbahaya penyebab kecanduan), tar (bersifat karsinogenik), CO (menurunkan kandungan oksigen dalam darah). Ketika seseorang telah kecanduan rokok, nikotin yang terkandung dalam tembakau merangsang otak untuk melepas zat yang memberi rasa nyaman alias dopamine, sehingga menyebabkan rasa ketergantungan. Untuk mempertahankan rasa nyaman, timbul dorongan untuk merokok kembali. Nah, inilah awal dari proses kecanduan rokok.

Merokok juga dapat menyebabkan berbagai penyakit, khususnya kanker paru, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung koroner, dan gangguan pembuluh darah. Tak hanya itu, merokok juga ditengarai menyebabkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil di luar kandungan, gangguan pertumbuhan janin, kejang saat kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal.

Biasanya, alasan pertama kali merokok yang paling dominan adalah karena coba-coba. Selain itu pengaruh iklan TV, ingin terlihat gagah, dan karena dipaksa teman menjadi penyebab lain remaja merokok. Apalagi sebuah dokumen industri rokok di luar negeri menunjukan bahwa betapa ia menyadari pentingnya anak dan remaja menjadi pasar potensial.

Berbagai studi yang antara lain dilakukan Komnas Perlindungan Anak dam Uhamka menunjukan iklan rokok berpengaruh pada anak untuk mulai merokok. Studi di Indonesia menunjukan 70 persen remaja mengaku mulai merokok karena terpengaruh oleh iklan, 77 persen mengaku iklan menyebabkan mereka untuk terus merokok, dan 57 persen mengatakan iklan mendorong mereka untuk kembali merokok setelah berhenti.

Tak hanya itu, faktor lingkungan keluarga dan masyarakat pun ikut mempengaruhi. Orang tua menjadi panutan dalam memberikan contoh bagi anak-anaknya, 72,4 persen remaja usia 13-15 tahun mempunyai orang tua merokok.

0 Komentar:

Beri Komentar

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.