Ultah, Nikah, Kado Terindah #2

15 Maret 2012 -

Sebelumnya beberapa hal tentang tulisan ini telah aku tulis tanggal 3 Februari kemarin. Sengaja aku baru menulisnya kali ini, karena waktu itu memang prosesi ini disembunyikan untuk kejutan, dan akhirnya berhasil. Kini, sesuatu yang spesial ini ingin kutuangkan, tanpa ada kata terlambat.

Terkait tanggal itu, sebenarnya ada beberapa tanggal penting. Sebut saja tanggal 19 Nopember,  ketika kedua orang tuaku bersama kakakku mulai mengawali proses menuju kehidupanku yang baru. Istilah lainnya, lamaran. Tertuju kepada sesosok wanita yang telah dipilihkan Tuhan untukku dan aku merasa beruntung. Setelah proses lamaran itu, aku aktifitas keseharianku masih biasa saja, santai tanpa ada proses mendesak.

Hari demi hari, kurun waktu sampai pada 3 Februari. Sadar atau tidak, aku masih mengisinya dengan kegiatan 'hura-hura' bersama teman-teman. Masih berusaha menyembunyikan status hubunganku, akupun cenderung pasif menghadapi teman-teman terlebih rekan kerja sekantor. Mengurus surat-menyurat ke KUA pun kulakukan dengan memanfaatkan sela-sela waktu jam kerjaku, agar tak memancing perhatian banyak pihak. Alhasil, semua selesai tanpa mengganggu proses apapun.

Hari jumat, akad nikahku. Pagi itu aku terjaga terlalu dini, sekitar pukul 4 pagi, bukan karena aku bingung atau gundah, tetapi lantaran lingkungan rumahku sudah gaduh. Tadi malam aku sudah cukup larut tidur, dan kini harus terbangun sebelum waktunya. Jelas saja pelupuk mataku memerah. Keberadaan beberapa orang keluarga, sedikit banyak mengganggu pola istirahatku malam ini. Aku tak menyesal, akupun segera membereskan tubuhku.

Kurasakan aku diperlakukan begitu spesial, dan kurasakan aku merasa sangat berterima kasih kepada kedua orang tuaku. Sekitar pukul 07 semua anggota keluarga sudah siap, mereka berdiri di sekitar jalan yang hendak kulewati. Aku masih mengenakan baju biasa, aku masih bertegur sapa dengan mereka, aku masih bercanda. Namun suasana kurasakan berbeda, ada suasana yang belum kurasakan sebelumnya, seakan hari ini merasa cukup sakral dimana aura beterbangan dimana-mana.

Semua terkumpul, aku mulai mensucikan diri dan mengganti pakaianku. Putih, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dengan tatahan manik-manik layaknya pengantin, aku diantarkan oleh Bapakku menyusuri jalan menuju mobil pengantin. Sementara ibu dan keluargaku bejalan di samping dan di belakangku. Benar-benar merasa diistimewakan, seakan aku ingin menangis haru saat itu.

Sampailah aku di mobil yang telah disiapkan. Keistimewaan ternyata belum berakhir, pintu mobilpun dibukakan untukku. Aku hanya diam, dan diam. Bahkan sepanjang jalanpun aku tak bersuara apapun. Beberapa puluh menit kemudian sampailah rombonganku di rumah calon mempelai wanita. Tenda biru dengan langit-langit putih terntata telah menyambut jejak langkahku. Lagi-lagi, aku dikelilingi keluargaku seakan tak diperbolehkan apapun mendekati dan mengganggu atau menyentuhku. Aku masih terdiam, kali ini dibenakku hanya ada Tuhan.

Kursi-kursi dan tamu yang mendudukinya berdiri, kuanggukkan kepalaku dan kukatakan permisi. Segaris senyum semanis-manisnya kuukir di sudut bibirku, sungguh aku bahagia bukan main. Seorang bapak-bapak separuh baya, aku belum mengenalnya siapa, mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Menuju ke ruang depan, aku menanggalkan kedua sandalku.

#bersambung

4 komentar:

  1. selamat aj dech dluu ya pa wis,,lau ini emg crita sesungguhnya,,coz msih bersambung ....crita nyata atau fiksi hehe..lau nyata selamat ya mga lebih dari bintang ma pa wis nya bahagia,,sllu...
    mau tau ujungny nieee pastinya happy ending....gtuu

    BalasHapus
  2. Sabar ya.. Pasti bersambung kok. hehe.. :D

    BalasHapus
  3. ok ok..btw stlh merit makin bijaksana ja kata2 nya ahihi

    BalasHapus
  4. Ahahaha... tuntutan profesi.. :D

    BalasHapus

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.