Di Tepi Jembatan Itu...

10 Januari 2012 -

Tiba-tiba konsentrasiku buyar, sepanjang jalan tadi bisa dikatakan aku memikirkan pemilik suara renyah itu. Ah, aku gak tau, sepertinya aku melakukan kesalahan yang aku sendiri tidak tahu. Hingga akhirnya, sampai detik ini pun aku seakan tak memiliki kesempatan untuk berbicara lagi. Hampa, hanya tersisa bongkahan kenangan. Bukan, bukan bongkahan karena kenangan itu kujaga rapi dan tak kubiarkan hancur.

Selain itu, peristiwa yang tiba-tiba melekat ingin kutulis dalam buku harianku... Ketika mendekati jembatan itulah konsentrasiku mulai buyar. Bukan tanpa sebab, tetapi ada sosok yang seketika menghentak nuraniku. Seorang wanita tua, dengan bawaan yang cukup banyak di kedua tangannya. Sambil kupelankan laju motorku, aku memandangnya. Dia terlihat lelah...

Mengilas ke sebelum aku sampai di tepi jembatan itu. Jika boleh dideskripsikan, rumahku terletak tidak jauh dari tepian Sungai Pelambuan. Hanya berselang 1 buah rumah, dihubungkan dengan sebuah jembatan terbuat dari kayu ulin (sering disebut juga kayu besi). Berawal dari aku pulang ke rumah, sekitar pukul 18. Cukup petang, aku mengendarai motorku menyusuri jalan yang setiap hari kulewati.

Sedikit lagi sampai di rumah, hanya sekitar 200 meter lagi. Yah, kuulangi lagi (sebagaimana di paragraf sebelumnya), di tepian jembatan itu... Dulu aku sering melihat sesosok wanita itu, dia menjual makanan yang disebut 'hintalu kaluang', semacam bubur dengan butiran bulat dan agak besar. Masalahnya bukan itu, beliau dulu aku lihat cukup segar. Tapi hari itu, ketika aku mendekati jembatan masih melihat beliau juga berjalan menuju kesana. Aku makin dekat dengan jembatan, kupandang beliau tampak belakang. Tapi tiba-tiba beliau membungkukkan tubuh, bukan membungkukkan ke arahku. Tetapi aku lihat sepertinya beliau lelah.

Beliau meletakkan barang-barang bawaan beliau, cukup banyak untuk hitungan dua belah tangan. Sepertinya beliau enggan untuk berhenti, sepertinya beliau enggan untuk istirahat, dan sepertinya beliau ada beban yang harus diandalkan dari berjualan tersebut. Aku sempat berfikir kenapa beliau tidak menggendongnya saja, agar lebih ringan. Kuperhatikan punggung beliau sepertinya skoliosis, kelainan tulang yang menjadikan tulang belakang bengkok seperti huruf S. Ya Allah, aku hanya berfikir dan terdiam.

Aku melewati beliau, masih kuingat seperti apa wajah dan keadaan wanita itu tadi. Kasihan, aku juga bingung.. Kemana anak-anak beliau, sudah saatnya beliau untuk dimanjakan, sudah saatnya beliau tertawa di sisa usianya. Terasa penuh kantong air mataku, terasa berat hela nafasku. Akupun menyadari, emosional memang.. Hingga tulisankupun berasa seperti terputar-putar. Biarlah, setidaknya di tepi jembatan itu kudapat sebuah pelajaran baru... Wahai ibu yang letih dan tertatih, semoga kau sehat selalu semoga anak-anakmu mulai malam ini akan menyayangimu dan menatahkan senyum di sisa umurmu. Wahai ibu di tepi jembatan itu,  semoga tak ada lagi beban berat di kedua belah tanganmu, tak ada lagi beban di pundakmu.  Aku bukan siapa-siapamu, tapi berharap besok atau lusa aku dapat melihatmu kembali di tepi jembatan itu.. :(

1 komentar:

  1. mga doa anda mewakili tiap hati yang brnurani lembut ,,,,aminnnnn

    BalasHapus

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.