Gitar dan Kehidupan

06 Desember 2011 -

Aku tersentak, setelah dengan tidak sadar kakiku hampir menendang gelas di sampingku. Hal itu terjadi ketika aku berusaha meluruskan kaki-kakiku, setelah beberapa puluh menit aku menghadapi laptopku. Malam yang dingin, tetapi tak dapat berbuat banyak terhadap mataku. Keheningannya pun belum mampu menggiringku untuk menuju peraduanku. Ya, aku masih ingin menuangkan apa yang ada di pikiranku...

Kuteguk air teh yang mulai mendingin, hanya untuk membasahi kerongkonganku. Tidak haus memang, tetapi sudah hampir seminggu ini aku dibuat terganggu dengan batuk dan radang tenggorokanku. Ku tatap kembali layar laptopku yang seakan-akan mulai enggan menemani aku menumpahkan isi hati. Baiklah, aku tidak ingin berbicara hati untuk malam ini.

"Gitar dan Kehidupan. Sama rumitnya, sama menyenangkannya... Sebagaimana gitar, kehidupan memerlukan kunci-kuncinya dan bagaimana cara kita menciptakan nadanya agar harmonis..."

Aku pikir, tidak hanya sekali atau dua kali aku ditempatkan pada posisi yang aku sendiri tidak tahu. Tidak tahu harus bagaimana, dan tidak tahu harus kemana. Dalam kasus yang lain, aku tahu harus bagaimana, dan tahu harus kemana, namun tetap tidak mengimplementasikan tindakan karena memikirkan hal-hal serta akibat yang ditimbulkannya.

Jika demikian kejadiannya, stagnan! Aku berhenti sejenak, kujangkau gitarku yang kebetulan tidak jauh dari tempatku duduk. Aku mulai memetik, dengan kemampuan fingerpicking yang seadanya aku mulai memainkan lagu Kuingin Selamanya. Pada awal lagunya terdengar denting-denting petikan yang khas, dan berlanjut kepada melodi yang mulai merapat di telinga.

Dengan nada-nada yang kadang luput metiknya, aku masih memainkan kunci-kuncinya.. Dengan kunci-kunci yang kadang telat memindahnya, aku masih memainkan lagunya... Aku menggumam, lagi-lagi gitar dan kehidupan bahwa keduanya sama, dimana keduanya diperlukan untuk menjaga keselarasan nada agar harmonis. Apabila tidak, maka lagunya agak terkesan kurang nyaman dan bahkan bisa mengganggu orang lain.

Terdiam, aku merenungi tentang kehidupan. Aku bayangkan wajah orang-orang di sekitarku, aku pikirkan sosok-sosok yang terkait denganku. Kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri, sudahkah aku memainkan nada yang baik dan harmonis untuk mereka? Aku diam, aku tahu jawabannya...

Serangkaian bahkan beribu rangkaian peristiwa yang melibatkan mereka, terhubung seperti benang kusut yang tidak bisa ditelusuri arah dan titik ujungnya. Jika kehidupanku dengan mereka seperti itu, bagaimana memainkan nadanya? Aku terdiam lagi... Aku sadar, ada beberapa hal, ada beberapa kasus yang memaksa aku untuk diam dan tak bertindak. Itu bukan tak memetik nada, namun pertanyaan yang lain pula, apakah nada itu terdengar baik untuk mereka?

Kurasakan semakin kacau pikiran dan tulisanku sekarang ini, akupun menyadari bahwa sampai disini pun belum mengurai secara rinci. Terlepas dari itu, yang harus dilakukan adalah... Belajar, tentang kehidupan agar mampu menyelaraskan sebagaimana memetik senar gitar.. :)

4 komentar:

  1. panjang juga, mau bikin novel mas??? :p

    BalasHapus
  2. Wew... Bukan! Mau buat sinetron.. Kalo novel di buku, ini di TV. Hehe...

    BalasHapus
  3. hummmmm pasti lagi memikirkan banyak hal jadi terinspirasi kmna mana,,,tapi kerennn buat jadi sebuah judul cerpen,,,

    BalasHapus
  4. Wah... Jauh dari bayangan saya... :)
    Lagian mana boleh membuat cerpen cuman judulnya doank? hehe..

    BalasHapus

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.