Antara Biasa dan Spesial

24 November 2011 -

Setidaknya dua kata itu melekat di kepalaku sejak malam tadi. Aku mulai berfikir seperti apa hal yang dikatakan biasa dan hal seperti apa yang termasuk spesial.

Kemarin, aku baru menginjakkan kaki ke pekarangan rumah ketika senja sudah mulai turun. Seketika aku merasa capek, kurebahkan tubuhku di pembaringan. Hanya beberapa puluh detik saja, aku harus beranjak lagi. Aku berjalan kembali ke rumah depan, menghidupkan lampu penerangan, ke lantai atas.. Menutup jendela, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan senja dan peralihan malam.

Memang tak memakan energi, tetapi pada waktu seperti itu aku sudah sangat ingin beristirahat. Kondisi perutku pun sepertinya tak sedang mau diajak kompromi, hingga akhirnya aku buat segelas teh dengan madu. Aku duduk sebentar, sementara aku mengisi bak mandi serta mendinginkan segelas tehku. Belum lagi aku sempat bernafas lega aktifitasku selesai satu per satu, ada kabar rekan kerjaku mau ke rumah. Aral, pada mulanya aku ingin segera beristirahat menjadi terganggu. Tapi yah, tak apa... Lagian dia tidak setiap hari.

Cukup lama aku menunggu, segelas teh ini pun telah habis. Aku selesai mandi, dan akhirnya aku hubungi dia kenapa tak kunjung sampai. Ternyata tersesat, tidak ingat jalan. Huhu.. Akhirnya, bertambah lagi kerjaan harus mengeluarkan motor dari garasi lagi.. Padahal udah capek, seperti dipukuli tubuh ini.

Bla bla bla.. Waktu berlalu dan akhirnya terlewati juga. Benar-benar seperti dipukuli tubuh ini! Namun aku masih menyempatkan untuk menyapu lantai ruang depan, lantai atas dan kamarku sendiri. Aku sendiri belum sempat makan malam, sedangkan waktunya sudah lewat. Jika ada yang dimakan, mungkin aku tak perlu menunggu lebih lama. Namun di rumah yang ada hanya nasi, tanpa lauk. Mau beli lauk ke luar, ah.. Tubuh ini sudah benar-benar letih bukan main. Akhirnya aku hanya memasak mie goreng, kumakan bersama nasi putih yang ada. Cukup terganjal perutku, aku segera merebahkan tubuhku.

Lagi-lagi aku ingin mengeluh betapa letihnya tubuhku, serasa aku ingin mandi lagi untuk menyegarkan tubuhku. Tapi tak kulakukan, aku ke kamar mandi hanya untuk menyikat gigi dan aku segera kembali ke pembaringan lagi.

Proses menuju terlelap selalu menjadi proses yang unik bagi setiap orang, dimana kadang orang akan mengkhayal dan berimajinasi hingga lelap dalam tidurnya. Begitu pula dengan aku, sepertinya kondisi tubuhku mempengaruhi kondisi pikiranku. Hingga aku berfikir, seperti ini rasanya menjadi orang yang tidak spesial...

0 Komentar:

Beri Komentar

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.