Mungkin Nanti, Tak Lagi

12 Agustus 2011 -

Malam telah bergulir, menyerap cahaya dari seluruh sisi langit. Hening, hanya terdengar dengungan baling-baling kipas angin di sudut kamarku. Tak kalah hening, aku diam sementara pikiranku berputar tak kalah cepatnya.

Termangu aku di ranjangku, mencoba mencari kesibukan dengan memainkan tabletku. Tapi semua sia-sia, karena masih saja tak mampu menawan pikiranku untuk diam. Ironisnya, pikiranku berputar dan kembali pada sesosok gelap. Pemimpi kecilku, begitu aku menyebutnya.

Akupun tak tahu apa yang dilakukannya, dan seperti apapun bentuknya. Jelas, aku berada pada sisi gelap yang hanya melihat cahaya ketika dibukakan jendelanya.

Dalam kelam, aku hanya duduk berpangku tangan. Menunduk tajam, dengan mata nanar namun menatap kosong. Ku meneguk liur, ku menghela nafas, dan aku bangkit merapat ke dinding.

Mungkin nanti, tak lagi...

Tuhan, jika suatu saat nanti aku tak seperti hari ini, sampaikan kepadanya bahwa aku masih sama.. Hanya mungkin tak berbunyi. Jika aku tak kuat nanti, benamkanlah semua dalam misteri..

Tuhan, jika suatu saat nanti aku tak seperti hari ini, sampaikan kepadanya bahwa aku masih menyayangi. Kalaupun aku hilang dari pandang nanti, biarkan gemuruh hati ini menjadi misteri...

Mungkin nanti, tak lagi...

4 komentar:

Anda harus memiliki akun Google untuk dapat mengirimkan komentar.